Monday, 3 October 2011

Saving ASI




Melihat foto di handphone saya,menjadi inspirasi untuk menulis tentang ASI Eksklusif yang saya berikan kepada dua buah hatiku (Aifasmi Hawanti (4thn) dan Irtaqiy Qurnuansya (2thn)). Yang keduanya lahir dengan barat badan menurut saya kecil, Aifa (2,6 kg) dan Taqiy (2,5 kg).
Masa cuti berakhir. Padahal masa pemberian ASI eksklusif pada bayi belum berakhir. Bisakah ASI Eksklusif dilanjutkan? “Bagaimana melanjutkan ASI eksklusifnya. Masa sih harus dicampur dengan susu formula. Sayang kan?”
“Rugi sekali jika saya hentikan. Sebab, usus bayi usia 3 bulan belum siap mencerna makanan selain air susu ibu. Selain itu. ASI merupakan sumber gizi ideal dengan komposisi seimbang, yang jika diberikan secara eksklusif bayi akan lebih sehat dan lebih cerdas dibanding bayi yang tidak mendapatkannya,”
Usia cukup bagi bayi manusia untuk mendapat makanan lain selain ASI adalah setelah 6 bulan. Dari usia 0 hingga 6 bulan bayi harus mendapat ASI eksklusif, yakni pemberian ASI murni tanpa bayi diberi tambahan lain seperti cairan air putih, madu, buah-buahan, maupun makanan tambahan seperti bubur susu atau bubur saring dsb., sampai usia bayi 6 bulan, menurut hasil penelitian, positif membuat bayi mendapat nutrisi terbaik; meningkat daya tahan tubuhnya, meningkat kecerdasannya, dan meningkat jalinan kasih

Memang ada beberapa trik yang saya lakukan :
Untuk memberi bayi ASI perahan, jauh-jauh hari sebelum masa cuti berakhir saya memang harus menyiapkan diri sendiri dan bayi. Bagi saya menabung susu dari jauh-jauh hari itu adalah kunci sukses saya untuk mencapai target Asi Eksklusif. Selain itu mempersiapkan mental untuk meninggalkan bayi dan memupuk rasa percaya bahwa ia akan baik-baik saja di rumah. Beratnya meninggalkannya memang luar biasa. Apalagi siang hari tak bersamanya dan tak menyusuinya pasti berat. Di kantor, saat payudara membengkak karena produksi ASI tak disusu bayi, ingatan saya pastilah pada buah hati di rumah.
Memberi ASI selama saya bekerja di kantor berarti saya juga harus memupuk kerjasama dengan pengasuh. Ini bukan hal mudah. Tapi, bagi saya tidak ada kata menyerah. Pelan-pelan saya jelaskan cara merawat dan pemberian ASI eksklusif. Banyak buku-buku yang saya jadikan acuan untuk mencapai target ASI Eksklusif.
Hanya sayang, ASI peras tak bisa menggantikan tindakan menyusui itu sendiri. Seperti diketahui, tindakan menyusui punya banyak pengaruh untuk pertumbuhan mental dan fisik bayi. Karena anak-anak yang diberi ASI akan tumbuh menjadi anak yang kepribadiannya baik, lantaran mereka tumbuh dalam keadaan yang dinamakan secure attachment, suatu suasana yang aman, hingga mereka akan mempunyai kepribadian yang baik, menurut dr. Utami Roesli, SpA, MBA.
Setelah diperah, ASI harus di simpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Menurut Utami, di udara terbuka, ASI perah bisa tahan 6-8 jam, tapi bila ditaruh di kantong plastik lalu dimasukan termos dan diberi es batu, akan tahan kira-kira 1X 24 jam. Lain lagi bila ASI perah dimasukan di lemari es, bisa tahan 2X24 jam. Sedangkan bila dimasukkan dalam freezer, bisa tahan 3 bulan.
Namun dari semua cara penyimpanan tadi, lebih dianjurkan untuk memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. “Sudah dibuktikan, lo, ASI perah yang dimasukkan ke termos dan lemari es tidak mengalami perubahan komposisi gizi sama sekali.
Dan hasil pertumbuhan mereka (Aifa dan Taqiy) disetiap bulannya mengalami peningkatan yang signifikan. Mereka tumbuh jadi anak yang sehat dan cerdas. Betapa bahagianya saya memiliki meraka.


No comments:

Post a Comment